Truth for anyone is a very complex thing. For a writer, what you leave out says as much as those things you include. What lies beyond the margin of the text? The photographer frames the shot; writers frame their world. Mrs Winterson objected to what I had put in, but it seemed to me that what I had left out was the story’s silent twin. There are so many things that we can’t say, because they are too painful. We hope that the things we can say will soothe the rest, or appease it in some way. Stories are compensatory. The world is unfair, unjust, unknowable, out of control. When we tell a story we exercise control, but in such a way as to leave a gap, an opening. It is a version, but never the final one. And perhaps we hope that the silences will be heard by someone else, and the story can continue, can be retold. When we write we offer the silence as much as the story. Words are the part of silence that can be spoken. Mrs Winterson would have preferred it if I had been silent. Do you remember the story of Philomel who is raped and then has her tongue ripped out by the rapist so that she can never tell? I believe in fiction and the power of stories because that way we speak in tongues. We are not silenced. All of us, when in deep trauma, find we hesitate, we stammer; there are long pauses in our speech. The thing is stuck. We get our language back through the language of others. We can turn to the poem. We can open the book. Somebody has been there for us and deep-dived the words. I needed words because unhappy families are conspiracies of silence. The one who breaks the silence is never forgiven. He or she has to learn to forgive him or herself. (Jeanette Winterson)
Why Be Happy When You Could Be Normal?
I'll Be Home For Christmas
Rascal Flatts sedang sering bernyanyi-nyanyi di iTunes lewat lagu "I'll be home for Christmas... You can count on me..."
Tanpa jeda, lagu ini terus menerus mengalun dengan begitu indah sembari saya mengerjakan proyek-proyek kantor sebelum akhirnya masuk ke fase libur panjang. Satu terlintas di otak ini: semoga "rumah" yang selalu saya datangi kembali untuk pulang bukanlah rumah yang salah. Semoga saya berada di rumah yang benar. Itu doa seumur hidup saya.
Happy (near) holiday!
Senja
Namanya Senja.
Senja tidak bisa melawan seluruh ketakutan yang ada di dalam tubuh dan jiwanya, bukan karena Senja tidak ingin namun karena ketidakjelasan masih mengambang sehingga Senja merasa harus berjaga-jaga.
Senja hanya bisa mematung.
Seluruhnya terasa buram. Pertanyaan tanpa jawaban.
Tidak tersisa apa-apa, selain penyesalan atas sebuah kejadian kecil di suatu taman pada sore senja itu. Senja tidak ingin mengingat detailnya, walau dia bisa mengingat sampai bagian tertidak penting dari semuanya. Tidak ada yang belum selesai, Senja hanya ingin melebur bersama dirinya tanpa bias.
Senja memperbolehkan dirinya bertanya dengan dirinya kali ini, mengobrol tanpa henti, dan meneruskan monolog tanpa arah dan membawanya kepada sebuah kenyataan yang sesungguhnya tidak ingin ia sentuh.
Sudah banyak yang berkata di belakang Senja bahwa ia gila. Terlalu melankolis. Terlalu berpikir melebih-lebihkan. Senja kali ini sesungguhnya tidak peduli. Ia hanya ingin berbagi dan menjadi dirinya sendiri tanpa berpikir mengenai orang lain. Senja sudah terlalu lelah berpura-pura. Dia tidak ingin menjual apapun, ke siapapun, termasuk seluruh jenis cerita atau kisah hidupnya. Ia hanya simpel ingin dimengerti tanpa kata-kata.
Namun itu mungkin permintaan paling muluk dari seorang manusia.
Senja kali ini berbagi dengan segelas cokelat hangat, dibawah hujan deras, di sebuah payung kecil berwarna hijau dengan Helvetica tebal berwarna putih. Senja hanya ingin merasa jelas atas semuanya sebelum melakukan keputusan paling gila yang pernah ia putuskan... keputusan yang pernah dilakukannya dahulu kala, 6 tahun yang lalu.
Keputusan yang membawanya pada pilihan-pilihan yang sesungguhnya tidak ingin ia sentuh. Atau ingin namun belum berani ia dekati?
Hujan turun, begitu pula dengan senja yang kini berganti dengan malam. Begitu pula dengan Senja.
Ia jadi teringat sebuah lirik lagu dari Johnny Cash... "I only focus on the pain, the only thing that's real .... full of broken thoughts, I cannot repair..."
Mungkin ini semua tidak nyata, ya? Senja bertanya-tanya sambil menatap langit yang begitu gelap. Seluruh rasa sakit, seluruh rasa bahagia, seluruh tawa, seluruh tangis... mungkin mereka tidak nyata. Mungkin seperti mimpi, mereka akan mati dimakan lupa. Jadi mungkin, sepertinya, mereka tidak nyata.
Malam datang sudah semakin naik ke atas. Senja memilih kabur. Kabur dari semuanya.
Senja tidak bisa melawan seluruh ketakutan yang ada di dalam tubuh dan jiwanya, bukan karena Senja tidak ingin namun karena ketidakjelasan masih mengambang sehingga Senja merasa harus berjaga-jaga.
Senja hanya bisa mematung.
Seluruhnya terasa buram. Pertanyaan tanpa jawaban.
Tidak tersisa apa-apa, selain penyesalan atas sebuah kejadian kecil di suatu taman pada sore senja itu. Senja tidak ingin mengingat detailnya, walau dia bisa mengingat sampai bagian tertidak penting dari semuanya. Tidak ada yang belum selesai, Senja hanya ingin melebur bersama dirinya tanpa bias.
Senja memperbolehkan dirinya bertanya dengan dirinya kali ini, mengobrol tanpa henti, dan meneruskan monolog tanpa arah dan membawanya kepada sebuah kenyataan yang sesungguhnya tidak ingin ia sentuh.
Sudah banyak yang berkata di belakang Senja bahwa ia gila. Terlalu melankolis. Terlalu berpikir melebih-lebihkan. Senja kali ini sesungguhnya tidak peduli. Ia hanya ingin berbagi dan menjadi dirinya sendiri tanpa berpikir mengenai orang lain. Senja sudah terlalu lelah berpura-pura. Dia tidak ingin menjual apapun, ke siapapun, termasuk seluruh jenis cerita atau kisah hidupnya. Ia hanya simpel ingin dimengerti tanpa kata-kata.
Namun itu mungkin permintaan paling muluk dari seorang manusia.
Senja kali ini berbagi dengan segelas cokelat hangat, dibawah hujan deras, di sebuah payung kecil berwarna hijau dengan Helvetica tebal berwarna putih. Senja hanya ingin merasa jelas atas semuanya sebelum melakukan keputusan paling gila yang pernah ia putuskan... keputusan yang pernah dilakukannya dahulu kala, 6 tahun yang lalu.
Keputusan yang membawanya pada pilihan-pilihan yang sesungguhnya tidak ingin ia sentuh. Atau ingin namun belum berani ia dekati?
Hujan turun, begitu pula dengan senja yang kini berganti dengan malam. Begitu pula dengan Senja.
Ia jadi teringat sebuah lirik lagu dari Johnny Cash... "I only focus on the pain, the only thing that's real .... full of broken thoughts, I cannot repair..."
Mungkin ini semua tidak nyata, ya? Senja bertanya-tanya sambil menatap langit yang begitu gelap. Seluruh rasa sakit, seluruh rasa bahagia, seluruh tawa, seluruh tangis... mungkin mereka tidak nyata. Mungkin seperti mimpi, mereka akan mati dimakan lupa. Jadi mungkin, sepertinya, mereka tidak nyata.
Malam datang sudah semakin naik ke atas. Senja memilih kabur. Kabur dari semuanya.
Holiday Treats from Cold Stone Creamery
Cold Stone kembali hadir dengan the newest holiday treats yang berisikan lima macam ice cream cakes yang bisa di order mulai tanggal 1 November 2012 sampai dengan 6 Januari 2013. Menggunakan ice cream chocolate sebagai bahan dasarnya, Cold Stone memiliki 5 varian rasa yang sangat menarik, tidak lupa dengan tampilan luar menggunakan sugar icing sehingga semuanya eatable.
Ada "Holiday's Delight" yang menggunakan campuran kacang almond, oreo, dan peanut butter, "Pingu Freeze Land" yang menggunakan campuran oreo, cookies and chocolate fudge, dilapisi dark chocolate and chocolate shaving, "Twinkle Lil' Star" yang berwarna merah menyala sendiri mengguankan buah blueberry dan strawberry dilapisi dengan red chocolate and chocolate shavings, "Tons of Gifts" yang berisikan chocolate fudge, brownies, dan chocolate chips, serta yang terakhir yang adalah favorit saya, "Christmas In Town" mint ice cream dipadu dengan Arnott's Caramel Biscuit, terlapisi dark chocolate ganache.
Kenapa saya bisa katakan ini favorit saya? Karena dari kelima rasa yang disediakan oleh Cold Stone untuk dicicipi saat Press Conference, rasa yang paling membuat saya merasa benar-benar liburan adalah rasa dari "Christmas In Town" ini.
Kal ini, rasakan the ultimate ice cream experience sebelum akhir tahun berakhir!
(source photos from Cold Stone)
(source photos from Cold Stone)
1 November 2012
Banyak hal terakumulasi di dalam pikiran saya saat ini. Banyak hal yang sudah pernah terucap dan dipikirkan, atau belum terucap namun sudah dipikirkan. Banyak kemungkinan atau probabilitas yang berputar-putar dikepala ini. Dan saya sesungguhnya benci dengan keadaan seperti ini.
Keadaan dimana saya mendengar seluruh yang dikatakan oleh orang lain tanpa mengetahui apa yang sebenarnya saya inginkan. Tanpa mengerti apa yang sesungguhnya hati dan pikiran saya inginkan dengan sistem win win solution.
Seseorang pernah berkata kepada saya:
Jangan pernah terlalu keras dengan diri sendiri.
Masalahnya, apabila kita tidak keras dengan diri sendiri, apakah keadaan akan berjalan sesuai dengan keharusannya? Apabila kita belajar menikmati semuanya hanya demi tidak ingin melewati banyak momen bahagia dalam kehidupan yang cuma sekali ini; apakah hal itu disebut benar-benar "menikmati"?
Banyak pertanyaan yang sedari dulu berkeliling-keliling di kepala saya, meminta, cenderung berteriak-teriak ingin dikeluarkan agar tidak menganggu kewarasan berpikir. Masalahnya, tidak bisa semudah itu. Banyak pertanyaan "ada apa?" atau "kamu kenapa?" atau "apa yang salah?" yang sebenarnya hanya mampu dijawab dengan "tidak apa-apa", bukan karena tidak ingin berbagi, namun karena ketidakmampuan seseorang memverbalkan perasaannya.
Saya ingin menganggap semuanya selesai .... Tapi mengapa rasanya sulit sekali. Rasa sakit yang terendam selama bertahun-tahun dan tidak pernah dibicarakan secara verbal itu tidak bisa diberhentikan secepat ini. Walau ingin. Ingin rasanya benar-benar keluar dari ketidakmampuan berlari dari masa lalu ini.
Sulit, tapi ingin.
Boleh tidak saya bertransformasi menjadi Catwoman saja?
Subscribe to:
Posts (Atom)