Thank You Half Of 2013. More, Please?

Kalau kata John Mayer dalam lagu 'Half Of My Heart':

Half of my heart's got a grip on the situation. Half of my heart takes time. Half of my heart's got the right mind to tell you...

Saya setuju.

Acap kali, hidup membawa saya (juga kalian-kalian semua) kepada sebuah pertanyaan tanpa jawaban. Atau, jawaban tanpa pertanyaan yang tidak pernah sekalipun terlintas di kepala.

Baru-baru ini terlintas di kepala saya, sebuah pertanyaan tanpa jawaban: apakah mau terus menekuni dunia jurnalistik setelah lulus kuliah atau malah mencoba hal baru. Pertanyaan-pertanyaan lainnya, yang kadangkala kurang logis, juga ikut masuk ke dalam pikiran saya. Dan jawaban itu saya temukan kadangkala ketika tanpa sadar saya sudah memilih--karena tengat waktu yang cenderung kepepet. (jawabannya: saya memilih dunia baru dan untuk beberapa saat, berhenti mencoba bekerja di dunia jurnalistik)

Hidup, memang kadangkala, membuat kita harus belajar menerima bahwa tidak setiap pertanyaan memiliki jawaban, begitupun sebaliknya.

Ketakutan mungkin adalah alasan mengapa manusia begitu sukar lepas dari pertanyaan tanpa jawaban. Takut salah, takut disakiti, takut menyakiti, serta ketakutan-ketakutan lain. Saya sempat membaca bahwa ketakutan adalah batasan sekaligus pelontar terkuat yang dimiliki tiap anak manusia--hanya perkara kita mau melihat nilai ketakutan itu sebagai yang mana.

Saya ingat sekali.... di awal tahun 2013 saya beresolusi untuk tidak membuat resolusi. Banyak hal yang kadangkala lebih fun apabila tidak direncanakan. Namun faktanya, saya sungguh ketakutan karena tip menjalani hidup macam itu bukan saya sekali.

Ketika 2013 sudah sampai pada pertengahannya, saya baru menyadari (kembali) bahwa saya sukses tidak beresolusi dan masih baik-baik saja. Kuliah lancar--bahkan mendapatkan gelar S.Ds dengan nilai yang sangat baik, sudah mendapat pekerjaan yang masih sejalan dengan passion dan materi kuliah, orangtua masih diberikan kesehatan... And all those moment are beyond my expectation.

Mungkin pelajarannya adalah: just live your life to the fullest. Enjoy every single day and always say thank you for everything. You... yes, all of you, deserved to be loved at least from your own mind. And like what 'Happythankyoumoreplease' said: there is another "more please" inside every "thank you" moment.


Thank you half of 2013. More (moments), please?

Kembali Di Titik Semula

Saya tidak menyangka bahwa melepas tanpa berbicara bisa sesulit ini. Saya juga tidak menyangka bahwa menulis ternyata tetap tidak bisa melepaskan seluruh sakit dalam diam yang sudah tercipta bulanan lalu.

Ini sudah menit kelima belas saya menatap layar laptop tanpa bisa menuliskan apapun. Gelas kopi sudah masuk yang kedua dan hanya ada kosong. Kosong yang begitu terasa, dan tanpa saya sadari, keberadaan anak manusia itu menjadi sebuah nilai yang penting dalam kekosongan ini.

Kali ini, saya kembali harus melepas. Kembali ke titik semula dimana ini tidak pernah ada. Ujung dari segala ada yang ada -- juga permulaan bagi sebuah mula yang akan ada. Anehnya saya merasa ....... plain.

Perasaan ini mungkin sudah lelah sedari dulu hanya termakan lelucon-lelucon hidup, sehingga yang keluar hanyalah sebuah rasa tanpa nama yang saya sendiri tidak bisa apresiasikan bentuknya. Saya hanya diam, namun tahu pasti bahwa ada yang salah dari dalam hati dan kepala ini. Tapi apa yang salah? Saya masih belum mampu mengapainya ke dalam kepala.

Melepaskan seharusnya menjadi sebuah perkara kecil untuk saya. Sejak belajar bahwa "when you own something/someone, you eventually will be owned by them", jadi melepaskan bukanlah perkara sulit. Mungkin pada akhirnya, karena itulah saya melakukan kecurangan dengan tidak pernah mau secara serius punya hubungan dari hati ke hati dengan siapapun. Bukan karena saya marah kepada dunia, tetapi karena saya belajar dari masa lalu perihal hal itu, dan ingin agar tidak pernah kesulitan melepaskan seseorang/sesuatu.

Namun kali ini, mendekati waktu melepas yang saya ciptakan sendiri, ada sebuah keraguan serta kumpulan emosi yang tidak mampu dibicarakan. Bahkan menulis bukan lagi solusi, pun dengan menangis. Dua hal yang selama ini saya kira mampu membantu kini malah melempar saya ke titik buntu. Putar arah? Belum saatnya.

Mungkin karena itulah saya sungguhan plain, namun dengan kesadaran penuh menyakini ada sesuatu yang salah dari hati saya. Tetapi lagi-lagi, melepaskan pada akhirnya membuat kita belajar kembali ke diri kita sendiri, bukan? Sesakit apapun hal-hal yang tidak terucapkan pada akhirnya.

Saya memasuki kopi gelas ketiga. Penulis paling buruk dijagat raya. Menulis sependek ini butuh tiga gelas kopi.



Pada akhirnya, saya hanya mengangguk mengerti mengingat sebuah bait lagu yang dinyanyikan oleh Calvin Harris dan Florence Welch. Saya akhirnya mengerti, mengapa kadang kala kita harus melepas tanpa berbicara.




Jakarta, 25 Juni 2013
Starbucks

Me, Lately....



He wants to say 'I love you'
but keeps it to 'Goodnight'
because love will means someone falling
and she is afraid of heights
(All taken from: I'm Falling For You)



when every single reason to stay is no longer be a reason
and when you fall asleep while your brain still thinking
about how cruel someone to your life
and your mind is too tired
just lay down

Fast & Furious 6: They Always, Always, Always, Got The First 10 Minutes



Saya adalah pencinta, bahkan mungkin bisa dikatakan fans berat, dari movie franchise Fast & Furious. Seluruh filmnya secara rutin saya tonton mulai dari sekuel pertama bahkan sampai film-film pendeknya di Youtube. Saya masih ingat, film ini pertama kali diperkenalkan oleh seorang teman yang juga hobi kebut-kebutan dijalan, dimana film Fast & Furious pertama yang saya tonton adalah Fast & Furious: Tokyo Drift.

Tidak terasa, sejak kemunculan The Fast & The Furious di tahun 2001, movie franchise ini bertahan hingga nomor ketujuh selama delapan tahun ke depan. Menariknya, disekuelnya yang keenam ini, Fast & Furious 6 berhasil menjadi box office movie dengan perolehan total $122M, mengalahkan movie franchise The Hangover III ($ 51M) serta Star Trek Into Darkness ($ 48M) hampir dua kali lipatnya.

Tidak dipungkiri, menurut pendapat saya, sekuel Fast & Furious ini sungguh memenuhi ekspektasi. Antara trailer film yang diberikan dengan keseluruhan film nampak serasi; tidak kurang dan tidak berlebih. Tepat pada porsinya.

Bahkan dalam sepuluh menit pertama, film ini tidak sedikitpun memberikan saya kesempatan untuk bernafas. Opening credit yang diakhiri dengan berdirinya pemain-pemain utama dari film ini terasa memorable di kepala. Ditambah dengan adegan-adegan menarik dan lemparan-lemparan dialog antar karakter yang membuat kepala saya seperti ikut berada bersama mereka.

Dan berbicara mengenai karakter, setiap aktor/aktris terlihat sangat menyatu dengan karakter mereka, sehingga hawa antar karakter begitu terasa. Katakan saja bahwa Vin Diesel berperan sangat baik menjadi laki-laki persisten yang cinta keluarga, atau Ludacris yang sangat baik memerankan karakternya sebagai si perakit pintar. Namun nilai tambahan saya berikan untuk Tyrese Gibson yang mampu memerankan karakternya secara tepat dan berkembang tanpa menghilangkan nilai-nilai seorang Roman. Walau untuk kali ini, Gibson murni saya tempatkan hanya sebagai pelawak. Tidak ada adegan menarik dan krusial yang membuat nilainya bertambah melebihi pelawak.



Saya yakini itu tidak lepas dari bagaimana Justin Lin dan kedua penulisnya, Chris Morgan untuk screenplay dan Gary Scott Thompson untuk characters. Sungguh salut dengan gabungan kerja antara Morgan dan Thompson yang mampu membuat dialog-dialog antar karakter semakin hidup, sehingga saya bisa merasakan setidaknya setengah dari koneksi antar karakter. Saya bisa merasakan cinta yang besar antara Han (Sun Kang) dan Gisele (Gal Gadot) dari gerak tubuh keduanya serta dialog yang terjadi antara mereka.

Dialog favorit? "You don't turn your back on family, even they do."

Keseluruhan, saya cukup terpuaskan dengan Fast & Furious 6 walau ada satu bagian yang menurut saya sangat impossible terjadi saat tank scene. Adegan ini pada akhirnya menganggu dan terputar-putar di kepala saya sampai pada akhir film, membuat esensi nyata pada film ini berkurang tiga puluh persen.

Menurut saya, formula lebih dari ganda sehingga film ini bisa mencapai $ 122M di minggu pertama pemutarannya adalah penggabungan banyaknya aktor handal dan berbadan kekar sempurna serta aktris seksi dan latina. Penggabungan yang mampu menarik kedua sisi market, baik laki-laki maupun perempuan. Mereka bisa terpuaskan ganda bukan hanya dari sisi cerita, tetapi juga dari pandangan mata di depan layar besar selama 130 menit.

Tidak bisa dilupakan penampilan Joe Taslim pada The Raid dan Fast & Furious 6. Laki-laki terlihat berbeda dan lebih menarik karena fisiknya yang menjadi sedikit Hongkong-ish. Dari appearance yang mendekati Jet Li, mengutip dari Twitter Mahir Pradana, mungkin kalimat 'hajar dia!' yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata baru dari 'seize the day' yang akan dilontarkan banyak wanita Amerika.

Kesimpulannya, saya rasa untuk sebuah movie franchise, Fast & Furious 6 bisa dikatakan berhasil. Permasalahan yang berikutnya muncul, seberapa berhasilkan Fast & Furious 7 yang sudah memberikan clue mengenai kemunculan Jason Statham sebagai penjahat? Another BIG star again, eh? I really am, can't wait.


(Ribka Anastasia Setiawan)
3.8 stars from 5 stars.

Rumah


Sayangku,
Ketika masa akhirnya membawa kita kepada titik akhir bernama kelelahan atas pertanyaan-pertanyaan egoisme, maukah kau maafkan segala ketidakmampuan mulut ini untuk membuka suara dan berkata seluruh kejujuran yang hanya tertanam dalam jiwa?

Ketika seluruh logika dan raga mengerti bahwa kamu adalah rumah yang selama ini kucari namun ketakutan akan pengulangan masa lalu terasa lebih mendominasi, sayangku, relakah kamu berdiri bergeming dan menunggu sampai keberanian itu muncul?



Karena, sayangku,
Kamu adalah rumah yang selama ini terbayangkan di dalam kepala. Sebuah imajinasi mengenai cukup dan aku sungguh merasa cukup.
Namun sampai saatnya tiba nanti, sampai Yang Diatas mengizinkan waktu berada di sisi kita, maukah kau menunggu?