Enjoying Silent

What is the best thing in the world that I wish I could do with my future husband? Enjoying silent and just stare at each other eyes for like .... a hour? Because when you can enjoy the silent between you and your wife/husband, it means you already comfortable with each other. Read this from thoughtcatalog.com: "someone who needs to keep talking to you might seems like they love you, but they actually just need you. It's not the same, and it's not as good." But it might be ... maybe .. I don't know it yet.

Hallo Gie,

Hallo, Soe atau Gie, atau Soe Hok Gie,


Akhirnya kita bertemu di Mandalawangi, walau aku tidak kesana secara langsung dan hanya melihat plang dengan tulisan besar "Mandalawangi". Walau tidak ke Gunung Pangrango. Walau batas kemampuan baru bisa membawaku melewati sejam jalan setapak perjalananmu ke sebuah air terjun indah dengan rasa dingin dibawah garis normal.

Aku merasa tidak apa-apa. Aku merasa cukup Gie. Aku merasa perjalanan liburan kali ini terasa begitu indah, simpel karena aku menyadari bahwa aku berkunjung ke tempat favoritmu.

Anehnya, aku merasa makin jatuh cinta denganmu. Aku merasa makin mengerti kesepian yang kamu ceritakan lewat tulisan-tulisanmu. Makin mengerti mengenai perjuangan yang kamu lakukan, walau tidak semuanya; dan tidak akan pernah kumengerti semuanya, karena aku tidak pernah mengenalmu secara personal.

Gie, ternyata sebegitu indahnya Mandalawangi sampai kamu mampu menulis puisi begitu indah disana. Atau kesepian dan cinta yang berkembang jadi satu yang mampu membuat sebuah Mandalawangi terasa begitu personal untukmu? Kupilih jawaban kedua. Mungkin bukan soal bagaimana, tapi siapa dan kenapa.

Gie, tanpa perlu mengenalmu, kamu mampu membuatku merasa bahwa perasaan aneh dan kesendirian ditengah banyak orang baik disekelilingku adalah sebuah rasa yang normal. Bahwa semuanya memang begitu adanya. Naturally happens.

Gie, tahukah kamu bahwa cinta kadang kala membawaku kepada sebuah jenis perasaan yang tidak kumengerti; bahkan kadang kala tak dapat kudeskripsikan lewat kata-kata? Bahwa kadang kala, aku merasa sia-sia dengan segala jenis perasaan yang ada. Bahwa …. ahh, lupakan saja Gie. Aku mungkin terlalu berkhayalan. Terlalu senang bahwa aku mendatangimu setelah sekian banyak perjumpaan maya lewat bukumu, "Dibawah Lentera Merah" dan film yang dimainkan dengan baik oleh Nicolas Saputra. Sebuah buku yang sukses membuatku memiliki sebuah cinta maya kepada seseorang yang telah tiada dan sesungguhnya, tidak pernah kutemui.

Aneh ya, Gie? Mungkin, kalau kamu masih hidup, aku dengan segala jenis harga diri yang ada, akan mendatangimu dan mencerocos mengenai bagaimana kamu membawaku kepada sebuah pengalaman intrapersonal yang indah.

Untuk semua itu, untuk semua perasaan yang tidak terdeskripsi, untuk sebuah Mandalawangi yang kau perkenalkan sebelum aku injak, untuk sebuah prosa dan karya yang membawaku pada imaji liar.

Untuk semua yang ada… Terima kasih.

Terima kasih untuk berbagi sebuah perjuangan, mendeskripsikan lewat kata-kata.

Terima kasih untuk telah ada.


Penggemar terberatmu.

Thank You Neil, You Teach Me Another Side About Love

Neil Gaiman capture me with 14 words at quote of The Sandman comic book: "Have you ever been in love? Horrible isn't it? It makes you so vulnerable."


And also another quotes that, somehow, with his magic way, makes me think that sometimes is okay to be not okay for no reason.

You get ideas from daydreaming. You get ideas from being bored. You get ideas all the time. The only difference between writers and other people is we notice when we're doing it. (Where Do You Get Your Ideas?)

Everybody has a secret world inside of them. All of the people of the world, I mean everybody. No matter how dull and boring they are on the outside, inside them they've all got unimaginable, magnificent, wonderful, stupid, amazing worlds. Not just one world. Hundreds of them. Thousands maybe. (The Sandman)


Tomorrow may be hell, but today was a good writing day, and on the good writing days nothing else matters. (Somewhat Less Sinister Ducks)


“You’ve a good heart,” she told him. “Sometimes that’s enough to see you safe wherever you go.” Then she shook her head. “But mostly, it’s not.” (Neverwhere)


All we have to believe with is our senses, the tools we use to perceive the world: our sight, our touch, our memory. If they lie to us, then nothing can be trusted. And even if we do not believe, then still we cannot travel in any other way than the road our senses show us; and we must walk that road to the end. (American Gods)


Have you ever had one of those days when something just seems to be trying to tell you somebody? (The Sandman)


There is another version of the tale. That is the tale the women tell each other, in their private language that the men-children are not taught, and that the old men are too wise to learn. And in that version of the tale perhaps things happened differently. But then, that is a women's tale, and it is never told to men. (The Sandman)


Sometimes you wake up. Sometimes the fall kills you. And sometimes, when you fall, you fly. (The Sandman)


We write our names in the sand, and then the waves roll in and wash them away. (The Sandman)

Perjalanan

Perjalanan.

Apa yang terindah dari perjalanan seseorang? Mungkin jawabannya adalah pengalaman. Pengalaman yang pada akhirnya membawa seseorang berubah. Saya percaya, perubahan adalah sebuah keadaan yang indah dan menyenangkan.


***

Saya ingat pertama kali saya tertawa begitu lepas, tanpa beban, tanpa berpikir apa yang kira-kira akan terjadi beberapa jam lagi, beberapa hari lagi, beberapa tahun lagi. Semuanya mendadak terasa mudah dan waktu jadi teman terburuk karena berlalu begitu cepat.

Saya ingat pertama kali mengenal yang namanya cinta. Ia datang tanpa diundang, sedikit banyak bentuknya seperti maling; hanya menclak-menclok kesana kemari tanpa memberi tahu jenis perasaan apa yang sebenarnya sedang saya rasakan, sampai pada akhirnya, seluruh buku dan how to tips article menyatakan satu hal soal perasaan saya yakni cinta. Terlambat sudah, perasaan sudah jadi bubur, hati jadi semakin sensitif. Menjauhi bukan sebuah solusi terbaik.

Saya ingat pertama kali bertemu kamu. Kamu dan cinta datang bersamaan, hanya dalam porsi pengenalan yang berbeda. Saya ingat sekali kamu dulu jahat dengan saya. Berusaha mengenal saya pun tidak. Namun waktu berubah, dan rasa mendadak samar. Yang saya tahu, kamu adalah hal terbaik yang hadir dan dicipta untuk saya.

Tapi dari segala ingatan, yang paling saya ingat dan paling saya masih rasakan keberadaannya saat ini adalah sakit. Sakit segala macam bentuk, terlebih sakit hati. Dan kamu juga cinta dan tawa berreuni di dalam rasa sakit itu. Saya tidak pernah menyangka sakit bisa menjadi secinta ini, atau sakit bisa jadi sebahagia ini. Mungkin saya sudah gila. Atau gila adalah pertemuan lain yang diakibatkan bergumulnya seluruh rasa menjadi satu. Seperti spektrum warna.

Lucunya, dari segala macam rasa perjalanan itu, kamu selalu ada di setiap titiknya. Tidak pernah absen sedikit pun.


Foto: www.aishanatasha.com

Be Brave

Baru saja menonton film yang diproduksi oleh Pixar dan didistribusikan oleh Disney berjudul "Brave" dimana ini adalah film animasi kedua yang sukses membuat saya tidak tertidur setelah "Up". Ceritanya simpel, hanya perjuangan bagaimana seorang wanita yang sejak kecil 'berbeda' karena tomboi, harus berusaha mengikuti keinginan sang ibu yang ingin menjadikan anaknya sebagai seorang putri sesungguhnya. Masalah muncul ketika ego anak-ibu ini berada di tingkat paling atas dan pertengkaran besar terjadi, dimana si anak, Merida, seperti kebanyakan remaja labil biasanya mengambil keputusan yang akhirnya merusak seluruh sistem keluarganya.



Tidak seperti kebanyakan film animasi, Brave membawa nuasana sedikit gelap sehingga orang-orang dewasa pun tidak merasa jenuh saat melihat film ini. Didukung dengan teknik backsound yang terlihat digarap sungguh-sungguh, Brave seperti membawa nafas baru bagi image Disney yang sudah kental dengan princess dan happily ever after-nya. Seperti formula film "Red Riding Hood" dan "Snow White and The Huntsman" yang terasa begitu gelap untuk ukuran adaptasi dongeng anak-anak. Sedang booming mungkin membuat film dongeng bernuasana gelap (padahal Tim Burton sudah mulai duluan dengan Alice In Wonderland).



Menonton Brave membuat saya mengkaji lagi hubungan dengan orangtua, khususnya ibu. Saya banyak mengeluarkan airmata di scene-scene intim antara Merida dan ibunya. Keberadaan ayahnya yang keturunan Viking pun menambah warna film ini untuk tidak melulu drama. Sebuah perpaduan yang pas untuk cerita animasi, Brenda Chapman. Apalagi dengan ending yang terasa begitu indah, sangat kekeluargaan (walaupun tetap sangat Disney), cerita ini wajib ditonton di Minggu sore bersama keluarga.

Sayang, entah karena bioskop tempat saya menonton jelek (padahal Blitz Megaplex) atau murni karena kualitas video, ada beberapa part awal yang terlihat sangat buram dan bias.



(Ribka Anastasia Setiawan)
2.8 stars from 5 stars.